Upacara Sekaten

Jika kamu sedang atau ingin berwisata ke daerah Jogja atau Surakarta, salah satu event besar yang dimiliki Indonesia ini tidak boleh kamu lewatkan. Yup, daerah Jogja dan Surakarta terkenal sekali dengan tradisi upacara sekaten-nya.

Upacara Sekaten adalah kegiatan tahunan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Rangkaian perayaan ini resmi dilakukan dari tanggal 5 sampai tanggal 12 Mulud dalam penanggalan Jawa atau sama dengan Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriah.

Nama Sekaten sendiri merupakan adaptasi dari istilah bahasa Arab, syahadatain. Istilah ini mempunyai makna persaksian atau syahadat yang dua. Pengakuan ini ditujukan kepada Allah serta Nabi Muhammad SAW.

Beberapa perluasan makna dari Sekaten dapat juga dikaitkan dengan beberapa istilah. Seperti, Sahutain yang bermakna menghentikan atau menghindari perkara dua, yaitu sifat lacur dan menyeleweng.

Sakhotain, menanamkan perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan.

Sakhatain, menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan. Sekati, yang bermakna setimbang, yakni mampu menimbang hal-hal baik dan buruk, serta yang terakhir Sekat, batas yang bermakna mampu membatasi diri untuk tidak berbuat jahat.

Tradisi Sekaten sudah dilakukan turun temurun dari abad ke-15 yang bersumber dari Kerajaan Demak. Sebagaimana kita tahu awal mula penyebaran agama Islam berasal dari pesisir pantai utara Jawa ini.

Beragam metode penyebaran agama Islam melalui kesenian dan kebudayaan maupun perkawinan meluas ke beberapa daerah. Hasil dari proses penyebaran tersebut adalah lahirnya berbagai tradisi unik, salah satunya yaitu Sekaten.

Ide ini pertama kali muncul berkat gagasan Sunan Kalijaga, agar menyelenggarakan sebuah perayaan untuk menyambut dan menyongsong hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal.

Gagasan ini merupakan sebuah ide cemerlang dan terbukti efektif dalam berdakwah dan memperluas ajaran agama Islam terutama pada masyarakat Jawa.

Penggunaan metode akomodatif atas unsur-unsur lokali ini berhasil mengembangkan sikap inklusivisme dan toleransi, serta model komunikasi tanpa tekanan. Alhasil karena masyarakat Jawa yang pada waktu itu memang menyukai gamelan berduyun duyun datang dan mendengarkan khutbah-khutbah mengenai agama Islam. Di samping itu tradisi arak-arakan semacam Sekaten, ternyata telah ada semenjak masa Kerajaan Majapahit.

Perayaan Sekaten sendiri memiliki berbagai prosesi yang dilakukan dalam beberapa rangkaian hari. Hari pertama, dilakukan prosesi upacara yang diawali sewaktu tengah malam dengan iring-iringan abdi dalem atau punggawa keraton dengan dua set gamelan yang bernama Kyai Nogowilongo dan Kyai Gunturmadu.

Iring-iringan ini dimulai dari pendapa Ponconiti menuju masjid Agung di Alun-alun Utara Yogyakarta. Gamelan Kyai Nogowilongo diletakkan di bagian utara masjid, sementara gamelan Kyai Gunturmadu diletakkan di Pagongan sebelah selatan masjid.

Kedua set gamelan ini kemudian dimainkan secara bersamaan sampai tanggal 11 bulan Mulud. Dan pada malam terakhir gamelan ini dibawa pulang kembali menuju ke dalam keraton.

Dua hari sebelum acara puncaknya, diadakan suatu prosesi upacara bernama Numplak Wajik. Acara ini diadakan di halaman istana Magangan pada pukul 16.00 WIB.

Prosesi upacara ini yaitu berupa kotekan atau permainan lagu seperti Lompong Keli, Tundhung Setan, Owal Awil, atau lagu-lagu rakyat yang populer dalam masyarakat Jawa. dengan menggunakan kentongan, lumpang alat penumbuk padi, dan semacamnya yang menjadi tanda dimulainya pembuatan gunungan. Gunungan ini nantinya akan diarak pada acara puncak Sekaten yaitu Grebeg Muludan.

Acara puncak Sekaten ditandai dengan prosesi Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12, persis pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Acara ini dilakukan mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB. Sebuah gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan, dan buah-buahan serta sayuran dibawa ke masjid Agung untuk didoakan.

Kemudian setelah itu, gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat. Bagian dari gunungan yang dianggap sakral oleh masyarakat akan dibawa pulang atau ditanam di sawah dan ladang karena dipercaya akan membawa berkah.

Leave a Reply