Majas Metafora

Majas Metafora

Apa sih yang dimaksud dengan majas metafora? Seperti apa ciri-ciri dan contohnya? Yuk simak ulasannya di bawah ini !

Pengertian Majas Metafora

Majas metafora merupakan majas yang menggambarkan suatu objek dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang hampir sama atau sama. 

Dalam membandingkan sesuatu, majas ini tidak menggunakan kata penghubung, melainkan langsung menuju atau menggunakan kata kiasan tersebut.

Majas ini termasuk jenis majas perbandingan, sama seperti majas hiperbola.

Ciri-Ciri Majas Metafora

Majas metafora memiliki beberapa ciri-ciri, yaitu :

  1. Menggunakan kata-kata yang bermakna kiasan untuk membandingkan suatu objek.
  2. Menyamakan suatu objek dengan menggunakan perbandingan langsung, tanpa adanya kata pembanding seperti laksana, bak, atau bagaimana.
  3. Tidak menggunakan kata penghubung pada kalimatnya.

Macam-Macam

Ada 2 macam majas metafora, yaitu :

1. Metafora In Praesetia

Majas metafora in praesetia adalah majas dimana objek yang ingin dibandingkan disampaikan bersamaan dengan pembandingnya, sehingga makna yang terkandung sangat eksplisit.

Contoh : Anggun merupakan kembang desa di desa ini.

Kalimat diatas mengungkapkan secara terang-terangan bahwa Anggun adalah gadis tercantik di desa tersebut.

2. Metafora In Absentia

Majas metafora in absentia ini memiliki makna secara implisit. Maksudnya, cara membandingkannya tidak secara langsung tertuju pada objek.

Contoh : Para lelaki di desa Parakansinjang kagum akan kecerdasan bunga desa itu.

Contoh Majas Metafora

Berikut beberapa contoh majas metafora :

1. “Nana merupakan bintang kelas di kelasnya”

>> “Bintang kelas” = murid pintar.

2. “Kita harus lapang dada dengan kekalahan ini”

>> “lapang dada” = sabar.

3. “Si jago merah melahap habis puluhan ruko di Ajibarang”

>> “Si jago merah” = api.

4. “Tikus kantor masih banyak di negeri ini”

>> “Tikus kantor” = koruptor.

5. “Sepulang dari Semarang, Ayah membawa buah tangan”

>> “Buah tangan” = oleh-oleh.

Contoh Majas Metafora Lainnya :

  1. Angga memang seorang buaya darat yang tak tahu diri.
  2. Yoga seorang kutu buku sejati, tak heran jika nilainya di sekolah selalu bagus.
  3. Sejak dulu Toni adalah tangan kanan di perusahaan Joko.
  4. Puspa menjadi buah bibir karena perilakunya yang dianggap tidak wajar oleh teman-temannya.
  5. Setelah ditelusuri, ternyata Dinda merupakan keturunan darah biru dari keluarga ibunya.
  6. Rafi selalu saja mencari kambing hitam dari masalah yang dihadapi.
  7. Jangan berkecil hati karena masih ada kesempatan di lain waktu.
  8. Artis itu sedang naik daun.
  9. Kecantikan Tika membuatnya menjadi bunga desa.
  10. Rudi sudah dianggap sampah masyarakat oleh warga di sekitar tempat tinggalnya.
  11. Perasaan menyesal yang mendalam membayangi lelaki itu.
  12. Kehadiran buah hati yang begitu dinantikan semakin menambah keharmonisan keluarga Anggun.
  13. Roland sudah lama hidup sebatang kara di jalanan.
  14. Sindi menjadi anak emas di sekolahnya.
  15. Deva menjadi tulang punggung keluarganya.

Demikian ulasan ringkas mengenai majas metafora. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply